BAGAIMANA
MENGINTEGRASIKAN MOTIVASI
DALAM
RANCANGAN PROSES PEMBELAJARAN?
Bersyukurlah
bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan,
Seandainya
sudah, apalagi yang harus diinginkan?
Bersukurlah
apabila kamu tidak tahu sesuatu, Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar
Bersukurlah
untuk masa-masa sulit, Karena dimasa itulah kamu tumbuh
Bersyukurlah
untuk keterbatasanmu, Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang
Bersyukurlah
untuk kesalahan yang kamu buat, Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga
Bersukurlah
bila kamu lelah dan letih, karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan
Bersyukurlah
untuk setiap tantangan baru, karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu
Hidup
akan lebih bahagia bila kita dapat menikmati apa yang kita miliki
Karena
itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi (Syarief El Munandar)
Liz Murray, terlahir dengan nama
Elizabeth Liz Murray pada tanggal 23 September 1980 di Bronx, New York.
Kehidupan Murray dimulai dengan catatan buruk. Dia terlahir dari orang tuanya
yang miskin, terinfeksi HIV, kecanduan narkoba yang tidak mampu menyediakan
kehidupan yang layak untuknya. Pada usia sembilan tahun, Murray dan keluarganya
hidup di sebuah apartemen yang sangat kotor. Pada usia muda, 16 tahun, Murray
ditinggalkan oleh ibunya karena meninggal akibat AIDS. Ayahnya juga
menelantarkannya dan pindah ke tempat penampungan tunawisma. Meski demikian,
Murray tak ingin menyerah dan putus asa, dia berusaha memperjuangkan hidupnya
dalam segala keterbatasan dan akhirnya dapat bersekolah di Humanities Preparatory Academy di Chelsea, Manhattan. Tetapi karena
kemalangannya ia sering tidur di stasiun kereta bawah tanah, bangku taman, atau
di rumah teman. Meski begitu, dia tetap tegar dan bahkan terus memberi suport
pada kakaknya agar tidak berputus asa. Meski umurnya saat masuk sekolah lebih
tua dari siswa lainnya, dan walaupun tanpa pendidikan yang baik, Murray mampu
lulus dalam dua tahun. Dia memperoleh beasiswa kurang mampu dari New York Times dan diterima untuk masuk
kuliah di Harvard University. Sementara
kakaknya Lisa lulus dari Purchase
Collage di New York dan menjadi guru bagi anak-anak autis. Tahun 2006,
ayahnya meninggal karena AIDS. Murray merasa shock, tapi tetap berusaha
bangkit. Dia kembali ke Harvard tahun 2006 dan lulus tahun 2009. Agustus 2009,
dia mulai bergelut dalam pendidikan untuk meraih gelar doktor dalam psikologi.
Murray
adalah pendiri dan direktur Manifest
Living, perusahaan yang menyediakan lokakarya yang memberi kekuatan bagi
orang dewasa untuk menciptakan hal-hal yang luar biasa dalam hidup. Liz Murray
juga adalah pembicara inspirasional Amerika yang berbicara tentang bagaimana
tekad dan tidak peduli seberapa keras kehidupan, Anda harus maju terus dan
terus berjuang mencapai cita-cita. Banyak film telah dibuat tentang
kehidupannya, seperti “Homeless to Harvard: Liz Murray Story”, dan “Breaking
Night”.
Kisah Liz Murray
merupakan kisah inspirasional bagi banyak orang yang selalu merasa gagal dalam
hidupnya, merasa bahwa keadaan terlalu kuat menghimpitnya dan bahkan membuat
tak bisa bangkit lagi dalam keterpurukan. Banyak Liz Murray muda di dunia ini
yang mengalami masalah dan kesulitan dalam hidupnya. Jika kita gali lebih mendalam,
ternyata bahkan begitu banyak orang seperti Liz Murray yang berhasil bangkit
dan mengubah takdirnya. Sebut saja, Oprah
Winfrey, pembawa acara ‘Oprah Winfrey Show’ yang tumbuh sebagai gelandangan
dan bahkan berkali-kali mengalami penganiayaan seksual dan kabur dari rumah
pada umur 13 tahun; dan bahkan tokoh besar ternama seperti Thomas Alva Edison, seorang bocah tuli bodoh yang diminta keluar
dari sekolah namun menjadi seorang pencipta yang genius. Mereka semua bisa
bangkit dan merubah nasib dengan perjuangan dan motivasi dari dalam dirinya. Namun
tidak semua bisa bangkit dari keterpurukannya seperti yang dilakukan Liz
Murray. Mengapa banyak orang tidak mampu mengubah nasibnya? Mengapa banyak
siswa tidak bisa lepas dari kemalasan, kebodohan dan ketidak tahuan? Banyak
pertanyaan di benak kita yang ingin kita teriakkan agar semua orang tahu dan
mendengar.
Satu
kisah lagi tentang Catherine Jahja
(Tintin), yang lahir tanggal 11 Juni 1977 di RS St. Carolus Jakarta yang
lahir dengan bahu kanan yang patah dan digips. Pada umur enam bulan, ibunya
sadar bahwa ia mengalami kelainan pada pendengarannya. Tintin tumbuh sebagai
anak tunarungu, namun oleh orangtuanya dia dimasukkan ke play group bagi anak
tuna rungu pada umur 2 tahun. Orangtuanya begitu telaten mengurusnya, mereka
belajar bahasa isyarat agar bisa berkomunikasi dengan Tintin. Dukungan
orangtua, serta pengalaman bermain dan belajar bersama anak-anak yang memiliki
keterbatasan sama dengan dirinya, memotivasi Tintin untuk menjadi anak yang
cerdas. Tintin kemudian memasuki sekolah Santi Rama tingkat kejuruan, dimana ia
belajar sablon dan menjahit dan selalu menjadi juara kelas. Minatnya pada
desain pakaian mengantarnya masuk ke Bunka School of Fashion International di
Jakarta yang telah banyak melahirkan banyak desainer ternama. Desember 1999,
Tintin akhirnya bekerja sebagai desainer di perusahaan konfeksi Indah Jaya,
Jakarta.
Kisah Tintin
mengingatkan kita bahwa keterbatasan ekonomi, latar belakang keluarga yang
bermasalah, dan pengalaman pahit bukan satu-satunya penghalang untuk maju.
Ternyata keterbatasan fisik juga menjadi momok menakutkan bagi banyak orang.
Tintin, salah seorang tunarungu ternyata mampu merubah nasibnya. Banyak orang
yang senasib bahkan lebih buruk dari nasib Tintin tapi tidak pantang menyerah,
antara lain: Michael Jordan, yang
selalu mengalami penolakan untuk masuk tim Basket karena ukuran tubuhnya yang
tidak memenuhi kualifikasi; Qian Hongyan,
gadis dari China yang menggunakan bola basket sebagai pengganti kakinya yang
diamputasi karena kecelakaan, dan kemudian menjadi perenang yang hebat; Anthony Robles dari Arizona, yang hanya
memiliki satu kaki namun berhasil menjadi juara nasional gulat kelas berat; dan
Bobby Martin dari Dayton Ohio, yang
lahir tanpa kedua kaki namun berhasil menjadi pemain Pro NFL. Dari kisah-kisah
mereka, ternyata motivasi bukan hanya berasal dari dalam diri sendiri untuk
merubah nasib, namun juga bisa datang dari oranglain, seperti teman, saudara,
orangtua dan guru. Dukungan orangtua dan teman sangat penting untuk
meningkatkan motivasi untuk mengubah diri.
Apa
maksud dari motivasi? Apa faktor yang menimbulkan rendahnya motivasi belajar?
Pada bagian
sebelumnya kita mempertanyakan mengapa banyak orang tidak mampu mengubah
nasibnya, dan mengapa banyak siswa tidak bisa lepas dari kemalasan, kebodohan
dan ketidak tahuan. Jawaban dari pertanyaan ini adalah karena kurangnya
motivasi. Motivasi (motivation) berasal dari kata motif (motive) yang
berarti dorongan, sebab atau alasan seseorang melakukan sesuatu. Motivasi
adalah perubahan
energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan
dan reaksi untuk mencapai tujuan (Hamalik, 1992:173). Sardiman (2006:73) menyatakan
motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan
munculnya “felling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Menurut
Mulyasa (2003:112) motivasi adalah
tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah
suatu tujuan tertentu. Peserta didik akan bersungguh-sungguh karena memiliki
motivasi yang tinggi. Seorang siswa akan belajar bila ada faktor pendorongnya
yang disebut motivasi. Jadi untuk merubah nasib, melepaskan diri dari kemalasan,
kebodohan, dan ketidaktahuan, dibutuhkan adanya motivasi.
Woolfolk
(2004:351) menggolongkan motivasi ke dalam dua bagian yaitu motivasi intrinsik
dan motivasi ekstrinsik.
a.
Motivasi
Instrinsik
Jenis motivasi
ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan
dan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri. Misalnya siswa
belajar karena ingin mengetahui seluk beluk suatu masalah selengkap-lengkapnya,
ingin menjadi orang yang terdidik, semua keinginan itu berpangkal pada
penghayatan kebutuhan dari siswa berdaya upaya, melalui kegiatan belajar untuk
memenuhi kebutuhan itu. Namun sekarang kebutuhan ini hanya dapat dipenuhi
dengan belajar giat, tidak ada cara lain untuk menjadi orang terdidik atau
ahli, selain belajar. Biasanya kegiatan belajar disertai dengan minat dan
perasaan senang.
b.
Motivasi
Ekstrinsik
Motivasi ini timbul akibat pengaruh dari
luar individu, apakah karena ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain
sehingga dengan kondisi yang demikian
akhirnya ia terdorong untuk melakukan tindakan atau dapat dikatakan
melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai
tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti
imbalan dan hukuman. Misalnya, murid belajar keras menghadapai ujian untuk
mendapatkan nilai baik.
Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar siswa
diantaranya adalah sebagai berikut: (1)
Metode mengajar guru, metode dan cara-cara mengajar guru yang monoton dan tidak menyenangkan akan mempengaruhi motivasi
belajar siswa; (2) Tujuan kurikulum dan pengajaran yang tidak jelas; (3) Tidak
adanya relevansi kurikulum dengan kebutuhan dan minat siswa ; (4) Latar
belakang ekonomi dan sosial budaya siswa; (5) Sebagian besar siswa yang
berekonomi lemah tidak mempunyai motivasi yang kuat untuk belajar dan
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang
lebih tinggi sebagai contoh siswa yang berasal dari pesisir pantai misalnya
lebih memilih langsung bekerja melaut dari pada bersekolah; (6) Kemajuan
teknologi dan informasi, siswa hanya memanfaatkan produk teknologi dan
informasi untuk memuaskan kebutuhan kesenangan saja; (7) Merasa kurang mampu
terhadap mata pelajaran tertentu, seperti matematika, dan bahasa inggris; (8)
Masalah pribadi siswa baik dengan orang tua, teman maupun dengan lingkungan
sekitarnya
Apa
Fungsi dan Peranan Motivasi? Mengapa Motivasi Penting dalam pembelajaran?
Salah satu hal yang bisa dilakukan
seorang Guru adalah mengirim pulang seorang murid di siang hari dalam keadaan
menyukai diri mereka sedikit lebih daripada ketika ia datang di pagi hari
(Ernest Melby)
(Ernest Melby)
Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab
seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin
melaksanakan aktivitas belajar. Motivasi diperlukan dalam menentukan intensitas
usaha belajar bagi para siswa. Menurut Djamarah (2002 : 123) ada tiga fungsi
motivasi: 1) motivasi sebagai pendorong perbuatan. Motivasi berfungsi sebagai
pendorong untuk mempengaruhi sikap apa yang seharusnya anak didik ambil dalam
rangka belajar; 2) motivasi sebagai penggerak perbuatan. Dorongan psikologis
melahirkan sikap terhadap anak didik itu merupakan suatu kekuatan yang tak
terbendung,yang kemudian terjelma dalam bentuk gerakan psikofisik; 3) motivasi
sebagai pengarah perbuatan. Anak didik yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi
mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana perbuatan yang diabaikan.
Uno (2007 : 27) menyatakan
ada beberapa peranan penting dari motivasi dalam belajar dan pembelajaran.
Antara lain dalam; a) menentukan penguatan belajar, artinya motivasi dapat
berperan dalam penguatan belajar apabila seorang siswa yang belajar dihadapkan pada suatu masalah
yang memerlukan pemecahan, dan hanya dapat dipecahkan berkat bantuan hal-hal
yang pernah dilaluinya, b) memperjelas tujuan belajar, artinya peran motivasi
dalam memperjelas tujuan belajar erat kaitannya dengan kemaknaan belajar. Anak
akan tertarik untuk belajar sesuatu jika yang dipelajari itu sedikitnya sudah
dapat diketahui atau dinikmati manfaatnya bagi anak, c) menentukan ketekunan
belajar, artinya seorang anak yang telah termotivasi untuk belajar sesuatu akan
berusaha mempelajarinya dengan baik dan tekun, dengan harapan memperoleh hasil
yang baik. Dalam hal itu, tampak bahwa motivasi untuk belajar menyebabkan
seseorang tekun belajar.
Motivasi mempunyai peranan penting dalam proses belajar
mengajar baik bagi guru maupun siswa. Bagi guru mengetahui motivasi belajar
dari siswa sangat diperlukan guna memelihara dan meningkatkan semangat belajar
siswa. Bagi siswa motivasi belajar dapat menumbuhkan semangat belajar sehingga
siswa terdorong untuk melakukan kegiatan belajar. Oleh karena pentingnya makna
dari motivasi, guru harus mampu memotivasi siswa dalam berbagai hal dan cara. Seorang
guru yang mampu memotivasi siswanya, akan memberikan semangat baru bagi
siswanya untuk menjadi lebih baik. Dan seperti bunyi kalimat inspiratif diatas, siswa akan lebih menerima dirinya, lebih
mencintai dirinya sendiri dan tidak menganggap keterbatasan sebagai halangan,
jika dirinya telah mendapatkan motivasi dari gurunya di sekolah.
Bagaimana
karakteristik siswa yang memiliki motivasi tinggi? Apa saja faktor yang
mempengaruhinya?
Menurut Sardiman (2006 : 83) motivasi pada diri
seseorang itu memiliki ciri-ciri : 1) tekun menghadapi tugas; 2) ulet
menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa); 3) menunjukkan minat terhadap
bermacam-macam masalah; 4) lebih senang bekerja mandiri; 5) tidak cepat bosan
terhadap tugas-tugas yang rutin; 6) dapat mempertahankan pendapatnya; 7) tidak
cepat menyerah terhadap hal yang diyakini; 8) senang mencari dan memecahkan
masalah soal-soal.
Prayitno (2002) juga menguraikan beberapa karakteristik
siswa yang memiliki motivasi tinggi dalam belajar yang dapat diamati dalam
proses pembelajaran di sekolah, yakni:
1)
Duduk di kursi dengan badan agak condong ke depan ketika
memperhatikan guru memberi penjelasan, sambil mengangguk-angguk.
2)
Mengacungkan tangan secara spontan bila ingin bertanya dan
memberi respon, ekspresi wajah penuh dengan rasa ingin tahu, bila merasa
berhasil ekspresinya puas dan bahagia serta sorotan mata bersinar-sinar.
3)
Secara umum menyukai sekolah, guru dan teman-teman,
cenderung datang ke sekolah lebih cepat.
4)
Sering merasa tertantang dengan tugas-tugas belajar yang
diberikan oleh guru, bila memberikan jawaban yang salah, maka siswa akan
berusaha untuk mendapatkan jawaban yang benar.
5)
Tekun, serius dan sabar terhadap pelajaran yang dirasa
sukar.
6)
Secara umum merasa senang hati dalam mengerjakan
tugas-tugasnya. Selalu menyiapkan peralatan dan kelengkapan belajar dengan
baik.
Menurut Max Darsono, dkk (2000:65) ada beberapa faktor yang
mempengaruhi motivasi belajar adalah:
a. Cita-cita atau aspirasi siswa yaitu
suatu target yang ingin dicapai. Cita-cita akan memperkuat motivasi
belajar.
b. Kemampuan belajar, meliputi beberapa
aspek psikis yang terdapat dalam diri siswa, misalnya penghematan,
perhatian, ingatan, daya pikir, fantasi.
c. Kondisi siswa, berkaitan dengan
kondisi fisik, dan kondisi psikologis. Seorang siswa yang kondisi jasmani dan
rohani yang terganggu, akan menganggu perhatian belajar siswa, begitu juga
sebaliknya.
d. Kondisi lingkungan yaitu unsur-unsur
yang datang dari luar diri siswa. Kondisi lingkungan yang sehat, kerukuan
hidup, ketertiban pergaulan perlu dipertinggi mutunya dengan lingkungan
yang aman, tentram, tertib dan indah, maka semangat dan motivasi belajar mudah
diperkuat.
e. Unsur-unsur dinamis dalam belajar yakni
unsur-unsur yang keberadaannya dalam proses belajar mengajar tidak stabil,
kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah dan bahkan hilang sama sekali. Misalnya
keadaan emosi siswa, gairah belajar, situasi dalam keluarga dan lain-lain.
f. Upaya guru dalam pembelajaran siswa
yakni bagaimana guru mempersiapkan diri dalam membelajarkan siswa mulai dari
penguasaan materi,cara menyampaikannya, menarik perhatian siswa, mengevaluasi
hasil belajar siswa, dan lain-lain. Bila upaya-upaya tersebut dilaksanakan
dengan berorientasi pada kepentingan siswa, maka diharapkan dapat menimbulkan
motivasi belajar siswa.
Apa
yang dapat dilakukan guru dalam memotivasi siswa?
Jika kau harus berteriak, lakukanlah
untuk membangkitkan semangat seseorang
Rahasia pendidikan adalah menghormati
sang murid
(Ralph Waldo Emerson)
The man
(or woman) who can make hard things easy is the educator.
Orang
yang bisa membuat semua hal yang sulit menjadi mudah dipahami, yang rumit
menjadi mudah dimengerti, atau atau yang sukar menjadi mudah dilakukan, itulah
pendidik yang sejati.
~ R
alph Waldo Emerson ~
Seorang guru
bisa menjadi pendidik sejati jika Ia mampu membuat semua hal menjadi mudah
untuk dipahami, dimengerti, dilakukan dan dikuasai oleh anak didiknya.
Membangkitkan semangat anak didik merupakan ide utama dalam memberi mereka
motivasi. Banyak guru melakukan kesalahan dalam mendidik. Kemarahan saat siswa
tidak mau ditegur, kekecewaan saat siswa tidak mampu mengerjakan tugas yang
diberikan, dan lain sebagainya. Tak jarang guru menghabiskan waktu di kelas
hanya untuk mengomel dan mengeluarkan unek-uneknya. Banyak guru menggunakan
kekerasan untuk menghukum siswa. Bahkan ada guru yang tega mencaci maki,
menghina, memperolokkan, menyudutkan siswa yang dianggap malas, bodoh, tidak
mau berusaha, dan nakal. Semua sikap guru tersebut bukan hanya menjauhkan
motivasi diri anak untuk maju, tapi bahkan cenderung menghancurkan jiwa dan
mental anak.
Seperti kata pepatah
‘seorang guru tidak memberikan
kearifannya, tetapi kepercayaan dan kasih sayangnya (Kahlil Gibran)’.
Setiap siswa membutuhkan kasih sayang dari gurunya dalam wujud perhatian,
kepedulian dan ketulusan dalam mengajar siswa. siswa tidak peduli betapa pintarnya seorang guru, yang mereka pedulikan
adalah apakah guru tersebut juga peduli padanya. Seperti kata James Balwin
“a child cannot be taught by any one who
despises him, and a child cannot afford tobe fooled.” Siswa tidak bisa
dididik oleh orang yang membencinya dan juga tidak bisa dibohongi, dalam arti
guru tidak bisa pura-pura peduli pada siswa, karena siswa pasti bisa
merasakannya, guru tidak bisa mengajar anak untuk berubah, jika ada kebencian
yang dirasakan anak yang timbul dari dalam diri guru terhadapnya. Dalam hal
ini, guru harus mampu mengintropeksi diri apakah dia bisa menjadi seorang motivator yang baik bagi siswanya.
Menurut Djamarah (1994 : 38) dalam usaha membangkitkan
gairah belajar anak didik, ada enam hal yang dapat dikerjakan oleh guru, yaitu;
a). Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar, b). Menjelaskan secara konkret kepada anak
didik apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran, c). Memberikan ganjaran
terhadap prestasi yang dicapai anak didik sehingga dapat merangsang untuk
mendapat prestasi yang lebih baik di kemudian hari, d). Membentuk kebiasaan belajar yang baik, e).
Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok,
dan f). Menggunakan metode yang
bervariasi.
Selanjutnya, Sardiman (2000) menyatakan bahwa bentuk dan
cara yang dapat digunakan untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar
adalah:
a. Pemberian angka, hal ini disebabkan karena banyak siswa
belajar dengan tujuan utama yaitu untuk mencapai angka/nilai yang baik.
b. Persaingan/kompetisi
c. Ego-involvement, yaitu menumbuhkan kesadaran
kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan
sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri.
d. Memberi ulangan, hal ini disebabkan karena para siswa
akan menjadi giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan.
e. Memberitahukan hasil, hal ini akan mendorong siswa untuk
lebih giat belajar terutama kalau terjadi kemajuan.
f.
Pujian, jika ada siswa yang berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, hal ini
merupakan bentuk penguatan positif.
Teknik-teknik
yang dapat dilakukan dalam proses pembelajaran untuk menumbuhkan motivasi
belajar ada dua puluh teknik, diuraikan lebih rinci oleh Uno (2008) yaitu: 1)
pernyataan penghargaan secara verbal, 2) menggunakan nilai ulangan sebagai
pemacu keberhasilan, 3) menimbulkan rasa ingin tahu, 4) memunculkan sesuatu
yang tidak diduga oleh siswa, 5) menjadikan tahap dini dalam belajar mudah bagi
siswa; hal ini mungkin memberikan hadiah bagi peserta didik pada tahap awal,
agar menumbuhkan semangat belajar selanjutnya, 6) menggunakan materi yang
dikenal siswa sebagai contoh dalam belajar, 7) gunakan kaitan yang unik dan tak
terduga untuk menerapkan suatu konsep dan prinsip yang telah dipahami, 8)
menuntut siswa untuk menggunakan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya, 9)
menggunakan simulasi dan permainan, 10) memberikan kesempatan kepada siswa
untuk memperlihatkan kemahirannya di depan umum, 11) mengurangi akibat yang
tidak menyenangkan dan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar, 12) memahami
iklim sosial dalam sekolah, 13) memanfaatkan kewibawaan guru secara tepat, 14)
memperpadukan motif-motif yang kuat, 15) memperjelan tujuan belajar yang hendak
dicapai, 16) merumuskan tujuan-tujuan sementara, 17) memberitahukan hasil kerja
yang telah dicapai, 18) membuat suasana persaingan yang sehat diantara para
siswa, 19) mengembangkan persaingan dengan diri sendiri; hal ini dapat
dilakukan dengan memberikan tugas dalaam berbagai kegiatan yang harus dilakukan
sendiri, dan 20) memberikan contoh yang positif.
Implementasi
motivasi dalam praktek pendidikan anak dapat dilakukan berdasarkan teori-teori
motivasi dan teori belajar yang diciptakan oleh para ahli.
(1) Teori
Pavlow dan Classical Coditioning. Buatlah kondisi yang mengelilingi kegiatan
itu positif dan konfrontasikan langsung terhadap sikap yang negatif. Pembelajaran
dilakukan dengan teka-teki dan permainan yang menggambarkan konsep yang sedang
diajarkan; diskusikan konsep-konsep atau jawaban salah tentang materi
pelajaran; cobalah mengatur meja tidak seperti biasanya; berikan music; poster
yang membuat lingkungan belajar lebih ceria dan menyenangkan.
(2) Teori
Kebutuhan Maslow; Teori motivasi berprestasi McClelland. Buatlah lingkungan
belajar yang aman dan buatlah prestasi untuk semua anak. Terbuka, jujur dan
konsisten pada diri kita sendiri sehingga anak dapat mempercayai kita; gunakan
nama-nama anak; atur anak untuk bekerja dalam satu tim pada proyek yang akan
menimbulkan kecemasan seperti hasil karya yang harus disampaikan dihadapan
banyak orang; berikan tutor untuk anak yang mengalami masalah; nyatakan diri
kita sendiri kepada anak; tentukan tujuan mata pelajaran yang layak.
(3) Teori
belajar bekerja sama. Perhatikan anak yang mempunyai masalah untuk mengurangi
kompetensi yang tidak sehat. Buat syarat-syarat, petunjuk-petunjuk,
perintah-perintah dan standar nilai yang jelas; eksperimen dengan tim yang
sedang belajar; nikmatilah kegiatan kita sendiri; berikan humor dalam situasi
yang memungkinkan.
(4) Teori
Kompetensi. biarkan anak tahu dimana mereka berpihak secara akademik dan
membantu mereka mengambil tanggungjawab untuk melengkapi tugasnya. Biarkan
anak-anak menyimpan hasil karya mereka atau dipajang di dalam kelas untuk
melengkapi portofolio mereka; pilih tugas yang agak rumit tapi mudah dan anak
senang mengerjakan; biarkan anak mendiskusikan tugas yang sukar dan biarkan
mereka mengatasinya
(5) Teori
Reinforcement. yakinkan bahwa konsekuen positif akan mengikuti tugas yang
dikerjakan dengan baik.
Dari berbagai
teori motivasi yang berkembang, Keller (1983) telah menyusun seperangkat
prinsip-prinsip motivasi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, yang
disebut sebagai model ARCS. Didalam model yang dikemukakan ada empat kategori
kondisi motivasional yang harus diperhatikan oleh guru untuk melaksanakan
pembelajaran yang menarik, bermakna, dan memberikan tantangan. Keempat kondisi
motivasinal tersebut dijelaskan sebagai berikut:
a.
Perhatian (Attention). Perhatian siswa muncul
didorong rasa ingin tahu, oleh sebab itu rasa ingin tahu ini perlu mendapat
rangsangan, sehingga siswa akan memberikan perhatian. Strategi untuk merangsang
minat dan perhatian siswa:
1. Gunakan
metode pembelajaran yang bervariasi.
2. Gunakan
media.
3. Bila dirasa
tepat gunakan humor dalam pembelajaran.
4. Gunakan
peristiwa nyata, anekdot, dan contoh-contoh untuk memperjelas konsep.
5. Gunakan
teknik bertanya untuk melibatkan siswa.
b. Relevansi (Relevance). Relevansi
menunjukkan adanya hubungan materi pembelajaran dan kebutuhan siswa. Motivasi
terpelihara apabila mereka menganggap apa yang dipelajari memenuhi kebutuhan. Strategi untuk
menunjukkan relevansi pembelajaran:
1.
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
2. Menjelaskan manfaat pengetahuan atau keterampilan yang akan
dipelajari akan membantu mereka melaksanakan tugas dengan lebih baik di
kemudian hari.
3.
Berikan contoh, tes, latihan yang langsung berhubungan dengan kehidupan
sehari-hari siswa.
c. Kepercayaan diri (Confidence). Keyakinan
pribadi bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk melakukan suatu tugas yang
merupakan syarat keberhasilan. Prinsip yang berlaku dalam hal ini adalah bahwa
motivasi akan meningkat dengan sejalan dengan meningkatnya harapan untuk
berhasil. Strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri:
1. Memperbanyak pengalaman berhasil pada siswa, misal
menyusun materi pembelajaran dari materi yang mudah ke materi yang sulit.
2. Menyusun materi
pembelajaran ke bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga siswa tidak terlalu
dituntut mempelajari terlalu banyak konsep sekaligus.
3. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan kriteria tes,
sehingga membantu siswa mempunyai gambaran yang jelas apa yang diharapkan.
4. Memberikan umpan
balik positif agar mereka tahu perkembangan prestasi yang telah dicapai.
5. Menumbuh-kembangkan
kepercayaan diri siswa baik dengan ucapan verbal maupun melalui sikap.
d. Kepuasan (Satisfaction). Keberhasilan
dalam mencapai suatu tujuan akan menghasilkan kepuasan, dan siswa akan
termotivasi untuk terus berusaha mencapai tujuan serupa. Strategi untuk
meningkatkan kepuasan:
1. Gunakan
pujian secara verbal.
2. Minta kepada
siswa yang telah paham untuk membantu teman-temannya yang belum berhasil.
3. Bandingkan
prestasi siswa dengan prestasinya sendiri di masa lalu, bukan dengan siswa
lain.
Bagaimana
cara guru mengintegrasikan motivasi dalam rancangan proses pembelajaran?
The
mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher
demonstrates. The great teacher inspires.
Guru
yang biasa-biasa saja memberi tahu. Guru yang baik menjelaskan. Guru yang bagus
menunjukkan bagaimana caranya. Tetapi guru yang luar biasa menginspirasi
murid-muridnya.
~ W
illiam A. Ward ~
Hal yang paling penting dalam
pembelajaran adalah motivasi. Guru yang luar biasa harus mampu menginspirasi
siswanya untuk memiliki motivasi diri dalam melakukan banyak hal, menciptakan
hal-hal yang baru, dan berkarya dalam hidupnya, tanpa adanya ketakutan untuk
dihina, dicela dan bahkan ditolak. Guru yang luar biasa harus mampu melakukan
semua ini dengan memprioritaskan kebutuhan siswa untuk didengar, dan dihargai,
tanpa menjatuhkan ego dan kewibawaan mereka.
Dari pembahasan sebelumnya, kita mengetahui apa saja upaya yang bisa
dilakukan guru untuk menggairahkan siswanya dalam belajar, bentuk dan cara yang dapat digunakan
untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar, teknik-teknik yang dapat
dilakukan dalam proses pembelajaran untuk menumbuhkan motivasi belajar, teori-teori
motivasi dan teori belajar dan implementasi motivasi dalam praktek pendidikan,
dan prinsip-prinsip motivasi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. Sebagai komponen yang secara langsung
berhubungan dengan permasalahan rendahnya motivasi belajar siswa, maka guru
harus menguasai kelima hal tersebut dan menerapkannya dalam pembelajaran. Jika
guru telah menguasai kelima hal tersebut, maka mudah bagi guru untuk
mengintegrasikan motivasi dalam rancangan proses pembelajaran.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengintegrasikan motivasi
dalam rancangan proses pembelajaran, yakni:
1) Identifikasi dulu apa SK, KD, Indikator dan
tujuan pembelajaran yang akan diajarkan. Susunlah rumusan dari masing-masing
SK, KD, Indikator, dan tujuan pembelajaran itu dengan urut dan jelas, agar kita
tahu, kompetensi apa yang kita inginkan untuk dicapai siswa pada pertemuan tersebut.
Ingat untuk menginformasikan dengan jelas tujuan pembelajaran yang ingin
dicapai dan apa manfaat pengetahuan atau ketrampilan tersebut bagi siswa di
kemudian hari.
2) Identifikasi kebutuhan peserta didik. Kita
tentunya telah mengenal siswa kita dengan baik, dari apa yang menjadi kelemahan
dan kekurangannya, apa yang bisa membuat siswa kita sulit untuk menguasai
kompetensi yang akan diajarkan, apa yang bisa membuat siswa termotivasi untuk
menguasai kompetensi tersebut dan lainnya. Dari proses mengidentifikasi ini,
kita harus menyimpulkan bagaimana cara kita menyampaikan materi yang akan
diajarkan dengan cara yang mudah dipahami siswa dan sekaligus membuat siswa
tertarik untuk menguasainya. Kita bisa menyiapkan beberapa cerita humor,
anekdot, dan peristiwa aktual untuk menarik perhatian siswa, sekaligus menimbulkan
rasa ingin tahu, dan memunculkan sesuatu yang tidak diduga oleh siswa. kita
bisa mendesain tempat duduk yang berbeda dari biasanya, memperdengarkan musik,
memperlihatkan gambar dan lain sebagainya yang kita anggap bisa menumbuhkan
motivasi siswa untuk semangat dalam belajar.
3) Pikirkan bentuk motivasi yang akan ditanamkan
dalam diri anak didik. Bentuk motivasi yang ingin kita tularkan tentu
berdasarkan identifikasi awal terhadap peserta didik. Susunlah apa saja bentuk
motivasi yang ingin ditanamkan tersebut agar kita tidak lupa untuk
menyampaikannya pada siswa pada proses pembelajaran. Kita bisa menggunakan
bahasa verbal untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa, termasuk dengan
memberi pujian, anggukan kepala, atau memberi reinforcement. Kita juga bisa memberikan motivasi berupa ganjaran
terhadap prestasi/hadiah dan memberi contoh-contoh positif bagi siswa.
Melakukan hal ini tidak mudah, guru harus berlatih dan membiasakan diri
sebelumnya agar tidak kelihatan canggung atau ragu saat memberi motivasi pada
siswa, dan juga pemberian motivasi tidak tepat sasaran atau disalah artikan
oleh siswa. ada Baiknya guru mempersiapkan presentasi seperti film, lagu atau
presentasi singkat lainnya tentang motivasi atau kisah-kisah inspiratif
orang-orang sukses, yang dapat ditayangkan sebelum materi diajarkan.
4) Memilih materi, metode dan media pembelajaran
yang tepat. Guru harus memikirkan apa materi yang tepat untuk disampaikan dan
sesuai dengan tuntutan SK, KD yang telah ditetapkan. Pemilihan materi
seharusnya disesuaikan juga dengan isu terkini atau hal-hal baru yang dapat
menimbulkan motivasi siswa. Jika perlu
materi dikaitkan langsung dengan motivasi. Jangan lupa mengaitkan materi dengan
minat, dan hal-hal yang familiar dalam kehidupan sehari-hari siswa. Metode
pembelajaran sebaiknya tidak monoton, jika bisa diupayakan metode yang mampu
membuat seluruh siswa secara aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran, dan
menimbulkan persaingan sehat antar siswa. Guru juga
perlu mengupayakan media yang tepat, menarik dan tidak membosankan.
5) Merancang
langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang menyenangkan. Guru bisa merancang
kegiatan belajar yang mampu memotivasi siswa belajar. Banyak cara bisa
dilakukan, dan tentu saja cara tersebut tidak lari dari metode yang dipilih.
Guru bisa menggunakan simulasi dan permainan sebagai bagian dari kegiatan
pembelajaran. dalam kegiatan pembelajaran, siswa diberi kesempatan untuk
menunjukkan hasil kerjanya, meminta siswa yang telah paham untuk membantu
teman-temannya yang belum berhasil, atau menyediakan tutor buat siswa yang
bermasalah, memberikan umpan balik positif agar mereka tahu perkembangan
prestasi yang telah dicapai dan melakukan evaluasi dan menginformasikan hasilnya, sehingga siswa mendapat
informasi yang tepat tentang keberhasilan dan kegagalan dirinya tanpa merasa disalahkan.
Sebuah
pembelajaran yang berhasil bukan hanya diukur dari tingginya nilai ujian siswa
dan seberapa cepat dia mengerjakan sebuah soal. Tapi bagaimana ia mampu
menguasai kompetensi yang diajarkan dan memanfaatkan kompetensi tersebut untuk
masa depannya. Karena itu, Guru sebagai artis segala bisa, harus mempunyai
ketertarikan yang kuat agar siswa ingin memperhatikan dirinya bahkan ketika dia
tidak sedang melakukan apapun. Ketertarikan siswa akan pribadi guru akan
menjadi motivasi tersendiri bagi siswa untuk mampu menguasai kompetensi yang
diharapkan.
Sebagai lanjutan
dari pembuatan rancangan proses pembelajaran yang mengintegrasikan motivasi,
tahap selanjutnya adalah pelaksanaan pembelajaran tersebut. Dalam melaksanakan
pembelajaran, ada satu kunci utama yang harus dikuasai guru, yakni menjadi guru
yang komunikatif. Guru tidak bisa memberi motivasi jika Ianya sendiri pasif dan
jarang berbicara. Guru harus mampu mencairkan situasi pembelajaran atau breaking the ice. Guru bisa memulai pembicaraan
kepada siswa dengan menanyakan hal-hal yang santai sambil bercanda seperti:
tadi sarapan paginya apa? Semalam mimpi apa? Cara ini efektif untuk memecahkan
suasana kaku dan tegang di kelas. Guru harus mampu memposisikan dirinya sebagai
teman dan bukan musuh bagi siswa, tanpa menghilangkan rasa haormat siswa
terhadapnya. Memulai pembelajaran dengan cara ini gampang-gampang susah. Banyak
situasi kelas yang ketika gurunya masuk, siswa duduk diam di kelas, tangan di
lipat, muka ditekuk, menunggu apa yang ingin disampaikan guru. Guru juga tanpa
banyak basa-basi (biasanya hanya menyapa dan mengabsen dulu) langsung masuk ke
materi yang akan diajarkan. Tak heran siswa tidak termotivasi dalam mengikuti
pembelajaran. Bahkan beberapa mata pelajaran (juga gurunya) dibenci oleh guru
dan benar-benar tidak diharapkan kehadirannya di kelas. Karena itu penting bagi
guru untuk menjadi seorang yang komunikatif bagi siswanya.
Selain itu,
dalam proses pembelajaran, kebanyakan siswa takut menjawab pertanyaan guru karena
guru akan menyalahkan, bahkan mentertawakan ketika mereka salah. Guru harus
mampu membuat siswa tetap percaya diri, dan yakin bahwa tidak akan terjadi
apa-apa, ketika mereka salah menjawab atau berpendapat. Ketika pendapat mereka
belum benar, maka guru bisa mengatakan bahwa “pendapat yang bagus, apakah ada
yang lain?, atau terimakasih, kamu sangat aktif, siapa yang ingin memberikan
pendapat lagi?”
Untuk membantu
anak didik dalam meraih impiannya dan mencapai kesuksesannya, guru harus mampu
menjadi seorang motivator yang baik. Banyak hal yang bisa menyebabkan siswa
tidak termotivasi untuk terus maju. Latar belakang keluarga, masalah ekonomi,
keterbatasan fisik, kekurangan daya tangkap, masalah kejiwaan dan sifat alami
bisa membuat siswa kita tidak bersemangat menjalani hari-harinya. Bagaimana
kita memaksakan siswa seperti itu untuk menguasai dan bahkan mencintai
pelajaran yang kita ajarkan? Penerimaan dan penolakan dari teman sebaya, dari
orangtua dan bahkan dari guru, juga bisa menyebabkan perasaan takut, kekhawatiran
yang berlebihan bahkan perasaan malu dan kehilangan kepercayaan diri. Karena
itulah guru harus memperbaiki diri, dan berusaha menjadi motivator yang baik
bagi siswanya. Mengintegrasikan motivasi dalam pembelajaran merupakan salah
satu langkah bagi guru untuk bisa mewujudkan perannya sebagai motivator
tersebut. seperti dalam penggalan syair berikut ini:
Mengajar bukan profesi. Mengajar adalah
kegemaran.
Aku telah mencapai sebuah kesimpulan
yang menakutkan bahwa aku adalah unsur penentu di dalam kelas.
Pendekatan pribadikulah yang
menciptakan iklimnya
Suasana hatikulah yang membuat cuacanya.
Suasana hatikulah yang membuat cuacanya.
Sebagai seorang Guru,
aku memiliki kekuatan yang sangat besar
untuk membuat hidup seseorang menderita atau gembira.
Aku bisa menjadi alat penyiksa atau
pemberi ilham, bisa bercanda atau mempermalukan,
melukai atau menyembuhkan.
Dalam semua situasi, reaksikulah yang
menentukan, apakah sebuah krisis akan memuncak atau mereda
dan apakah seseorang akan diperlakukan
sebagai manusia atau direndahkan.
( Haim Ginott)
( Haim Ginott)
Syair ini
mengingatkan kita, bahwa menjadi guru harus diiringi itikad baik, guru adalah
penentu dalam kelas, guru bisa menyebabkan kehancuran dan juga bisa membawa
pada kebaikan. Jadi, sebagai guru, kita harus hati-hati dalam bertindak, jangan
sampai tindakan kita berpengaruh buruk bagi siswa. Jadilah motivator bagi
siswa, seorang penyayang dan peduli, untuk selalu dikenang sampai akhir hayat.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, A. 2004. Psikologi Balajar. Jakarta: Rineka
Cipta.
Dimyati & Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran.
Jakarta: Rineka Cipta.
Djaali, H. 2008. Psikologi Pendidikan.Jakarta, PT Bumi Aksara
Djamarah,Syaiful
Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar.Jakarta:Rineka
Cipta.
Hamalik,Oemar.
2003. Proses Belajar Mengajar.Bandung:
Bumi Aksara.
http://en.wikipedia.org/wiki/Liz_Murray
http://www.bijak.web.id/inspirasi/inilah-10-orang-cacat-terhebat-menjadi-inspirasi-dunia.html
Kerlinger, F. N. 2005. Azas-Azas
Penelitian behavioral. Terjemahan: Simatupang. Yogyakarta: Gajah Mada
Universiti Press.
Makmun, A. S. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung:
Remaja Rosda Karya.
Mulyasa, E. 2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E. 2003. Kurikulum
Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Prayitno, 2002. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka
Cipta.
Santrock, John W. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Kencana
Prenada Media Group.
Santrock,
John W. 2008. Educational Psychology (edisi
terjemahan). Jakarta : Kencana Prenada Media Group
Sardiman,A.M. 2006.Interaksi dan
Motivasi Belajar Mengajar.Jakarta:Grafindo.
Simarmata, Niken Maria. 2006. Karena Dia. Kumpulan Kisah Nyata Bukti
Pertolongan Tuhan. Yogyakarta: Andi offset.
Uno, H. B. 2008. Teori
Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara
Wardhani, Nurul. Peran guru dalam meningkatkan motivasi. http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/12
(didownload 16 Januari 2010)
Walgito, B. 2007. Psikologi Kelompok.
Yogyakarta: Andi.
Winkel, W. S. 2004. Psikologi
Pengajaran. Jakarta: Gramedia.
tion.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar