Sabtu, 26 Oktober 2013

BAGAIMANA MENGINTEGRASIKAN MOTIVASI DALAM RANCANGAN PROSES PEMBELAJARAN?



BAGAIMANA MENGINTEGRASIKAN MOTIVASI
DALAM RANCANGAN PROSES PEMBELAJARAN?

Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan,
Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan?
Bersukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu, Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar
Bersukurlah untuk masa-masa sulit, Karena dimasa itulah kamu tumbuh
Bersyukurlah untuk keterbatasanmu, Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat, Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga
Bersukurlah bila kamu lelah dan letih, karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan
Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru, karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu
Hidup akan lebih bahagia bila kita dapat menikmati apa yang kita miliki
Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi (Syarief El Munandar)

Liz Murray, terlahir dengan nama Elizabeth Liz Murray pada tanggal 23 September 1980 di Bronx, New York. Kehidupan Murray dimulai dengan catatan buruk. Dia terlahir dari orang tuanya yang miskin, terinfeksi HIV, kecanduan narkoba yang tidak mampu menyediakan kehidupan yang layak untuknya. Pada usia sembilan tahun, Murray dan keluarganya hidup di sebuah apartemen yang sangat kotor. Pada usia muda, 16 tahun, Murray ditinggalkan oleh ibunya karena meninggal akibat AIDS. Ayahnya juga menelantarkannya dan pindah ke tempat penampungan tunawisma. Meski demikian, Murray tak ingin menyerah dan putus asa, dia berusaha memperjuangkan hidupnya dalam segala keterbatasan dan akhirnya dapat bersekolah di Humanities Preparatory Academy di Chelsea, Manhattan. Tetapi karena kemalangannya ia sering tidur di stasiun kereta bawah tanah, bangku taman, atau di rumah teman. Meski begitu, dia tetap tegar dan bahkan terus memberi suport pada kakaknya agar tidak berputus asa. Meski umurnya saat masuk sekolah lebih tua dari siswa lainnya, dan walaupun tanpa pendidikan yang baik, Murray mampu lulus dalam dua tahun. Dia memperoleh beasiswa kurang mampu dari New York Times dan diterima untuk masuk kuliah di Harvard University. Sementara kakaknya Lisa lulus dari Purchase Collage di New York dan menjadi guru bagi anak-anak autis. Tahun 2006, ayahnya meninggal karena AIDS. Murray merasa shock, tapi tetap berusaha bangkit. Dia kembali ke Harvard tahun 2006 dan lulus tahun 2009. Agustus 2009, dia mulai bergelut dalam pendidikan untuk meraih gelar doktor dalam psikologi.
Murray adalah pendiri dan direktur Manifest Living, perusahaan yang menyediakan lokakarya yang memberi kekuatan bagi orang dewasa untuk menciptakan hal-hal yang luar biasa dalam hidup. Liz Murray juga adalah pembicara inspirasional Amerika yang berbicara tentang bagaimana tekad dan tidak peduli seberapa keras kehidupan, Anda harus maju terus dan terus berjuang mencapai cita-cita. Banyak film telah dibuat tentang kehidupannya, seperti “Homeless to Harvard: Liz Murray Story”, dan “Breaking Night”.
Kisah Liz Murray merupakan kisah inspirasional bagi banyak orang yang selalu merasa gagal dalam hidupnya, merasa bahwa keadaan terlalu kuat menghimpitnya dan bahkan membuat tak bisa bangkit lagi dalam keterpurukan. Banyak Liz Murray muda di dunia ini yang mengalami masalah dan kesulitan dalam hidupnya. Jika kita gali lebih mendalam, ternyata bahkan begitu banyak orang seperti Liz Murray yang berhasil bangkit dan mengubah takdirnya. Sebut saja, Oprah Winfrey, pembawa acara ‘Oprah Winfrey Show’ yang tumbuh sebagai gelandangan dan bahkan berkali-kali mengalami penganiayaan seksual dan kabur dari rumah pada umur 13 tahun; dan bahkan tokoh besar ternama seperti Thomas Alva Edison, seorang bocah tuli bodoh yang diminta keluar dari sekolah namun menjadi seorang pencipta yang genius. Mereka semua bisa bangkit dan merubah nasib dengan perjuangan dan motivasi dari dalam dirinya. Namun tidak semua bisa bangkit dari keterpurukannya seperti yang dilakukan Liz Murray. Mengapa banyak orang tidak mampu mengubah nasibnya? Mengapa banyak siswa tidak bisa lepas dari kemalasan, kebodohan dan ketidak tahuan? Banyak pertanyaan di benak kita yang ingin kita teriakkan agar semua orang tahu dan mendengar.
Satu kisah lagi tentang Catherine Jahja (Tintin), yang lahir tanggal 11 Juni 1977 di RS St. Carolus Jakarta yang lahir dengan bahu kanan yang patah dan digips. Pada umur enam bulan, ibunya sadar bahwa ia mengalami kelainan pada pendengarannya. Tintin tumbuh sebagai anak tunarungu, namun oleh orangtuanya dia dimasukkan ke play group bagi anak tuna rungu pada umur 2 tahun. Orangtuanya begitu telaten mengurusnya, mereka belajar bahasa isyarat agar bisa berkomunikasi dengan Tintin. Dukungan orangtua, serta pengalaman bermain dan belajar bersama anak-anak yang memiliki keterbatasan sama dengan dirinya, memotivasi Tintin untuk menjadi anak yang cerdas. Tintin kemudian memasuki sekolah Santi Rama tingkat kejuruan, dimana ia belajar sablon dan menjahit dan selalu menjadi juara kelas. Minatnya pada desain pakaian mengantarnya masuk ke Bunka School of Fashion International di Jakarta yang telah banyak melahirkan banyak desainer ternama. Desember 1999, Tintin akhirnya bekerja sebagai desainer di perusahaan konfeksi Indah Jaya, Jakarta.
Kisah Tintin mengingatkan kita bahwa keterbatasan ekonomi, latar belakang keluarga yang bermasalah, dan pengalaman pahit bukan satu-satunya penghalang untuk maju. Ternyata keterbatasan fisik juga menjadi momok menakutkan bagi banyak orang. Tintin, salah seorang tunarungu ternyata mampu merubah nasibnya. Banyak orang yang senasib bahkan lebih buruk dari nasib Tintin tapi tidak pantang menyerah, antara lain: Michael Jordan, yang selalu mengalami penolakan untuk masuk tim Basket karena ukuran tubuhnya yang tidak memenuhi kualifikasi; Qian Hongyan, gadis dari China yang menggunakan bola basket sebagai pengganti kakinya yang diamputasi karena kecelakaan, dan kemudian menjadi perenang yang hebat; Anthony Robles dari Arizona, yang hanya memiliki satu kaki namun berhasil menjadi juara nasional gulat kelas berat; dan Bobby Martin dari Dayton Ohio, yang lahir tanpa kedua kaki namun berhasil menjadi pemain Pro NFL. Dari kisah-kisah mereka, ternyata motivasi bukan hanya berasal dari dalam diri sendiri untuk merubah nasib, namun juga bisa datang dari oranglain, seperti teman, saudara, orangtua dan guru. Dukungan orangtua dan teman sangat penting untuk meningkatkan motivasi untuk mengubah diri.

Apa maksud dari motivasi? Apa faktor yang menimbulkan rendahnya motivasi belajar?
Pada bagian sebelumnya kita mempertanyakan mengapa banyak orang tidak mampu mengubah nasibnya, dan mengapa banyak siswa tidak bisa lepas dari kemalasan, kebodohan dan ketidak tahuan. Jawaban dari pertanyaan ini adalah karena kurangnya motivasi. Motivasi (motivation) berasal dari kata motif (motive) yang berarti dorongan, sebab atau alasan seseorang melakukan sesuatu. Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan (Hamalik, 1992:173). Sardiman (2006:73) menyatakan motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “felling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Menurut Mulyasa (2003:112) motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Peserta didik akan bersungguh-sungguh karena memiliki motivasi yang tinggi. Seorang siswa akan belajar bila ada faktor pendorongnya yang disebut motivasi. Jadi untuk merubah nasib, melepaskan diri dari kemalasan, kebodohan, dan ketidaktahuan, dibutuhkan adanya motivasi.
Woolfolk (2004:351) menggolongkan motivasi ke dalam dua bagian yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.
a.        Motivasi Instrinsik
Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dan dorongan dari orang lain, tetapi atas kemauan sendiri. Misalnya siswa belajar karena ingin mengetahui seluk beluk suatu masalah selengkap-lengkapnya, ingin menjadi orang yang terdidik, semua keinginan itu berpangkal pada penghayatan kebutuhan dari siswa berdaya upaya, melalui kegiatan belajar untuk memenuhi kebutuhan itu. Namun sekarang kebutuhan ini hanya dapat dipenuhi dengan belajar giat, tidak ada cara lain untuk menjadi orang terdidik atau ahli, selain belajar. Biasanya kegiatan belajar disertai dengan minat dan perasaan senang.
b.        Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ini timbul akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain sehingga dengan kondisi yang demikian  akhirnya ia terdorong untuk melakukan tindakan atau dapat dikatakan melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara untuk mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik sering dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman. Misalnya, murid belajar keras menghadapai ujian untuk mendapatkan nilai baik.
Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya motivasi belajar siswa diantaranya  adalah sebagai berikut: (1) Metode mengajar guru, metode dan cara-cara mengajar guru yang monoton dan  tidak menyenangkan akan mempengaruhi motivasi belajar siswa; (2) Tujuan kurikulum dan pengajaran yang tidak jelas; (3) Tidak adanya relevansi kurikulum dengan kebutuhan dan minat siswa ; (4) Latar belakang ekonomi dan sosial budaya siswa; (5) Sebagian besar siswa yang berekonomi lemah tidak mempunyai motivasi yang kuat untuk belajar dan melanjutkan pendidikan  ke jenjang yang lebih tinggi sebagai contoh siswa yang berasal dari pesisir pantai misalnya lebih memilih langsung bekerja melaut dari pada bersekolah; (6) Kemajuan teknologi dan informasi, siswa hanya memanfaatkan produk teknologi dan informasi untuk memuaskan kebutuhan kesenangan saja; (7) Merasa kurang mampu terhadap mata pelajaran tertentu, seperti matematika, dan bahasa inggris; (8) Masalah pribadi siswa baik dengan orang tua, teman maupun dengan lingkungan sekitarnya

Apa Fungsi dan Peranan Motivasi? Mengapa Motivasi Penting dalam pembelajaran?

Salah satu hal yang bisa dilakukan seorang Guru adalah mengirim pulang seorang murid di siang hari dalam keadaan menyukai diri mereka sedikit lebih daripada ketika ia datang di pagi hari
(Ernest Melby)

Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melaksanakan aktivitas belajar. Motivasi diperlukan dalam menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa. Menurut Djamarah (2002 : 123) ada tiga fungsi motivasi: 1) motivasi sebagai pendorong perbuatan. Motivasi berfungsi sebagai pendorong untuk mempengaruhi sikap apa yang seharusnya anak didik ambil dalam rangka belajar; 2) motivasi sebagai penggerak perbuatan. Dorongan psikologis melahirkan sikap terhadap anak didik itu merupakan suatu kekuatan yang tak terbendung,yang kemudian terjelma dalam bentuk gerakan psikofisik; 3) motivasi sebagai pengarah perbuatan. Anak didik yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana perbuatan yang diabaikan.
Uno (2007 : 27) menyatakan ada beberapa peranan penting dari motivasi dalam belajar dan pembelajaran. Antara lain dalam; a) menentukan penguatan belajar, artinya motivasi dapat berperan dalam penguatan belajar apabila seorang siswa  yang belajar dihadapkan pada suatu masalah yang memerlukan pemecahan, dan hanya dapat dipecahkan berkat bantuan hal-hal yang pernah dilaluinya, b) memperjelas tujuan belajar, artinya peran motivasi dalam memperjelas tujuan belajar erat kaitannya dengan kemaknaan belajar. Anak akan tertarik untuk belajar sesuatu jika yang dipelajari itu sedikitnya sudah dapat diketahui atau dinikmati manfaatnya bagi anak, c) menentukan ketekunan belajar, artinya seorang anak yang telah termotivasi untuk belajar sesuatu akan berusaha mempelajarinya dengan baik dan tekun, dengan harapan memperoleh hasil yang baik. Dalam hal itu, tampak bahwa motivasi untuk belajar menyebabkan seseorang tekun belajar.
Motivasi mempunyai peranan penting dalam proses belajar mengajar baik bagi guru maupun siswa. Bagi guru mengetahui motivasi belajar dari siswa sangat diperlukan guna memelihara dan meningkatkan semangat belajar siswa. Bagi siswa motivasi belajar dapat menumbuhkan semangat belajar sehingga siswa terdorong untuk melakukan kegiatan belajar. Oleh karena pentingnya makna dari motivasi, guru harus mampu memotivasi siswa dalam berbagai hal dan cara. Seorang guru yang mampu memotivasi siswanya, akan memberikan semangat baru bagi siswanya untuk menjadi lebih baik. Dan seperti bunyi kalimat inspiratif diatas, siswa akan lebih menerima dirinya, lebih mencintai dirinya sendiri dan tidak menganggap keterbatasan sebagai halangan, jika dirinya telah mendapatkan motivasi dari gurunya di sekolah.

Bagaimana karakteristik siswa yang memiliki motivasi tinggi? Apa saja faktor yang mempengaruhinya?
Menurut Sardiman (2006 : 83) motivasi pada  diri seseorang itu memiliki ciri-ciri : 1) tekun menghadapi tugas; 2) ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa); 3) menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah; 4) lebih senang bekerja mandiri; 5) tidak cepat bosan terhadap tugas-tugas yang rutin; 6) dapat mempertahankan pendapatnya; 7) tidak cepat menyerah terhadap hal yang diyakini; 8) senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.
Prayitno (2002) juga menguraikan beberapa karakteristik siswa yang memiliki motivasi tinggi dalam belajar yang dapat diamati dalam proses pembelajaran di sekolah, yakni:
1)       Duduk di kursi dengan badan agak condong ke depan ketika memperhatikan guru memberi penjelasan, sambil mengangguk-angguk.
2)       Mengacungkan tangan secara spontan bila ingin bertanya dan memberi respon, ekspresi wajah penuh dengan rasa ingin tahu, bila merasa berhasil ekspresinya puas dan bahagia serta sorotan mata bersinar-sinar.
3)       Secara umum menyukai sekolah, guru dan teman-teman, cenderung datang ke sekolah lebih cepat.
4)       Sering merasa tertantang dengan tugas-tugas belajar yang diberikan oleh guru, bila memberikan jawaban yang salah, maka siswa akan berusaha untuk mendapatkan jawaban yang benar.
5)       Tekun, serius dan sabar terhadap pelajaran yang dirasa sukar.
6)       Secara umum merasa senang hati dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Selalu menyiapkan peralatan dan kelengkapan belajar dengan baik.
Menurut Max Darsono, dkk (2000:65) ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar adalah:
a.       Cita-cita atau aspirasi siswa yaitu suatu target yang ingin dicapai. Cita-cita  akan memperkuat motivasi belajar.
b.      Kemampuan belajar, meliputi beberapa aspek psikis yang terdapat dalam diri siswa, misalnya  penghematan, perhatian, ingatan, daya pikir, fantasi.
c.       Kondisi siswa, berkaitan dengan kondisi fisik, dan kondisi psikologis. Seorang siswa yang kondisi jasmani dan rohani yang terganggu, akan menganggu perhatian belajar siswa, begitu juga sebaliknya.
d.      Kondisi lingkungan yaitu unsur-unsur yang datang dari luar diri siswa. Kondisi lingkungan yang sehat, kerukuan hidup, ketertiban pergaulan  perlu dipertinggi mutunya dengan lingkungan yang aman, tentram, tertib dan indah, maka semangat dan motivasi belajar mudah diperkuat.
e.       Unsur-unsur dinamis dalam belajar yakni unsur-unsur yang keberadaannya dalam proses belajar mengajar tidak stabil, kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah dan bahkan hilang sama sekali. Misalnya keadaan emosi siswa, gairah belajar, situasi dalam keluarga dan lain-lain.
f.       Upaya guru dalam pembelajaran siswa yakni bagaimana guru mempersiapkan diri dalam membelajarkan siswa mulai dari penguasaan materi,cara menyampaikannya, menarik perhatian siswa, mengevaluasi hasil belajar siswa, dan lain-lain. Bila upaya-upaya tersebut dilaksanakan dengan berorientasi pada kepentingan siswa, maka diharapkan dapat menimbulkan motivasi belajar siswa.

Apa yang dapat dilakukan guru dalam memotivasi siswa?

Jika kau harus berteriak, lakukanlah untuk membangkitkan semangat seseorang
Rahasia pendidikan adalah menghormati sang murid
(Ralph Waldo Emerson)

The man (or woman) who can make hard things easy is the educator.
Orang yang bisa membuat semua hal yang sulit menjadi mudah dipahami, yang rumit menjadi mudah dimengerti, atau atau yang sukar menjadi mudah dilakukan, itulah pendidik yang sejati.
~  R alph Waldo Emerson  ~

Seorang guru bisa menjadi pendidik sejati jika Ia mampu membuat semua hal menjadi mudah untuk dipahami, dimengerti, dilakukan dan dikuasai oleh anak didiknya. Membangkitkan semangat anak didik merupakan ide utama dalam memberi mereka motivasi. Banyak guru melakukan kesalahan dalam mendidik. Kemarahan saat siswa tidak mau ditegur, kekecewaan saat siswa tidak mampu mengerjakan tugas yang diberikan, dan lain sebagainya. Tak jarang guru menghabiskan waktu di kelas hanya untuk mengomel dan mengeluarkan unek-uneknya. Banyak guru menggunakan kekerasan untuk menghukum siswa. Bahkan ada guru yang tega mencaci maki, menghina, memperolokkan, menyudutkan siswa yang dianggap malas, bodoh, tidak mau berusaha, dan nakal. Semua sikap guru tersebut bukan hanya menjauhkan motivasi diri anak untuk maju, tapi bahkan cenderung menghancurkan jiwa dan mental anak.
Seperti kata pepatah ‘seorang guru tidak memberikan kearifannya, tetapi kepercayaan dan kasih sayangnya (Kahlil Gibran)’. Setiap siswa membutuhkan kasih sayang dari gurunya dalam wujud perhatian, kepedulian dan ketulusan dalam mengajar siswa. siswa tidak peduli betapa pintarnya seorang guru, yang mereka pedulikan adalah apakah guru tersebut juga peduli padanya. Seperti kata James Balwin “a child cannot be taught by any one who despises him, and a child cannot afford tobe fooled.” Siswa tidak bisa dididik oleh orang yang membencinya dan juga tidak bisa dibohongi, dalam arti guru tidak bisa pura-pura peduli pada siswa, karena siswa pasti bisa merasakannya, guru tidak bisa mengajar anak untuk berubah, jika ada kebencian yang dirasakan anak yang timbul dari dalam diri guru terhadapnya. Dalam hal ini, guru harus mampu mengintropeksi diri apakah dia bisa menjadi seorang motivator yang baik bagi siswanya.
Menurut  Djamarah (1994 : 38) dalam usaha membangkitkan gairah belajar anak didik, ada enam hal yang dapat dikerjakan oleh guru, yaitu; a). Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar,  b). Menjelaskan secara konkret kepada anak didik apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran, c). Memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai anak didik sehingga dapat merangsang untuk mendapat prestasi yang lebih baik di kemudian hari,  d). Membentuk kebiasaan belajar yang baik, e). Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok, dan  f). Menggunakan metode yang bervariasi.
Selanjutnya, Sardiman (2000) menyatakan bahwa bentuk dan cara yang dapat digunakan untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar adalah:
a. Pemberian angka, hal ini disebabkan karena banyak siswa belajar dengan tujuan utama yaitu untuk mencapai angka/nilai yang baik.
b. Persaingan/kompetisi
c. Ego-involvement, yaitu menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri.
d. Memberi ulangan, hal ini disebabkan karena para siswa akan menjadi giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan.
e. Memberitahukan hasil, hal ini akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar terutama kalau terjadi kemajuan.
f. Pujian, jika ada siswa yang berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, hal ini merupakan bentuk penguatan positif.
Teknik-teknik yang dapat dilakukan dalam proses pembelajaran untuk menumbuhkan motivasi belajar ada dua puluh teknik, diuraikan lebih rinci oleh Uno (2008) yaitu: 1) pernyataan penghargaan secara verbal, 2) menggunakan nilai ulangan sebagai pemacu keberhasilan, 3) menimbulkan rasa ingin tahu, 4) memunculkan sesuatu yang tidak diduga oleh siswa, 5) menjadikan tahap dini dalam belajar mudah bagi siswa; hal ini mungkin memberikan hadiah bagi peserta didik pada tahap awal, agar menumbuhkan semangat belajar selanjutnya, 6) menggunakan materi yang dikenal siswa sebagai contoh dalam belajar, 7) gunakan kaitan yang unik dan tak terduga untuk menerapkan suatu konsep dan prinsip yang telah dipahami, 8) menuntut siswa untuk menggunakan hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya, 9) menggunakan simulasi dan permainan, 10) memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperlihatkan kemahirannya di depan umum, 11) mengurangi akibat yang tidak menyenangkan dan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar, 12) memahami iklim sosial dalam sekolah, 13) memanfaatkan kewibawaan guru secara tepat, 14) memperpadukan motif-motif yang kuat, 15) memperjelan tujuan belajar yang hendak dicapai, 16) merumuskan tujuan-tujuan sementara, 17) memberitahukan hasil kerja yang telah dicapai, 18) membuat suasana persaingan yang sehat diantara para siswa, 19) mengembangkan persaingan dengan diri sendiri; hal ini dapat dilakukan dengan memberikan tugas dalaam berbagai kegiatan yang harus dilakukan sendiri, dan 20) memberikan contoh yang positif.
Implementasi motivasi dalam praktek pendidikan anak dapat dilakukan berdasarkan teori-teori motivasi dan teori belajar yang diciptakan oleh para ahli.
(1)     Teori Pavlow dan Classical Coditioning. Buatlah kondisi yang mengelilingi kegiatan itu positif dan konfrontasikan langsung terhadap sikap yang negatif. Pembelajaran dilakukan dengan teka-teki dan permainan yang menggambarkan konsep yang sedang diajarkan; diskusikan konsep-konsep atau jawaban salah tentang materi pelajaran; cobalah mengatur meja tidak seperti biasanya; berikan music; poster yang membuat lingkungan belajar lebih ceria dan menyenangkan.
(2)     Teori Kebutuhan Maslow; Teori motivasi berprestasi McClelland. Buatlah lingkungan belajar yang aman dan buatlah prestasi untuk semua anak. Terbuka, jujur dan konsisten pada diri kita sendiri sehingga anak dapat mempercayai kita; gunakan nama-nama anak; atur anak untuk bekerja dalam satu tim pada proyek yang akan menimbulkan kecemasan seperti hasil karya yang harus disampaikan dihadapan banyak orang; berikan tutor untuk anak yang mengalami masalah; nyatakan diri kita sendiri kepada anak; tentukan tujuan mata pelajaran yang layak.
(3)     Teori belajar bekerja sama. Perhatikan anak yang mempunyai masalah untuk mengurangi kompetensi yang tidak sehat. Buat syarat-syarat, petunjuk-petunjuk, perintah-perintah dan standar nilai yang jelas; eksperimen dengan tim yang sedang belajar; nikmatilah kegiatan kita sendiri; berikan humor dalam situasi yang memungkinkan.
(4)     Teori Kompetensi. biarkan anak tahu dimana mereka berpihak secara akademik dan membantu mereka mengambil tanggungjawab untuk melengkapi tugasnya. Biarkan anak-anak menyimpan hasil karya mereka atau dipajang di dalam kelas untuk melengkapi portofolio mereka; pilih tugas yang agak rumit tapi mudah dan anak senang mengerjakan; biarkan anak mendiskusikan tugas yang sukar dan biarkan mereka mengatasinya
(5)     Teori Reinforcement. yakinkan bahwa konsekuen positif akan mengikuti tugas yang dikerjakan dengan baik.
Dari berbagai teori motivasi yang berkembang, Keller (1983) telah menyusun seperangkat prinsip-prinsip motivasi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran, yang disebut sebagai model ARCS. Didalam model yang dikemukakan ada empat kategori kondisi motivasional yang harus diperhatikan oleh guru untuk melaksanakan pembelajaran yang menarik, bermakna, dan memberikan tantangan. Keempat kondisi motivasinal tersebut dijelaskan sebagai berikut:
a. Perhatian (Attention). Perhatian siswa muncul didorong rasa ingin tahu, oleh sebab itu rasa ingin tahu ini perlu mendapat rangsangan, sehingga siswa akan memberikan perhatian. Strategi untuk merangsang minat dan perhatian siswa:
1. Gunakan metode pembelajaran yang bervariasi.
2. Gunakan media.
3. Bila dirasa tepat gunakan humor dalam pembelajaran.
4. Gunakan peristiwa nyata, anekdot, dan contoh-contoh untuk memperjelas konsep.
5. Gunakan teknik bertanya untuk melibatkan siswa.
b. Relevansi (Relevance). Relevansi menunjukkan adanya hubungan materi pembelajaran dan kebutuhan siswa. Motivasi terpelihara apabila mereka menganggap apa yang dipelajari memenuhi kebutuhan. Strategi untuk menunjukkan relevansi pembelajaran:
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
2. Menjelaskan manfaat pengetahuan atau keterampilan yang akan dipelajari akan membantu mereka melaksanakan tugas dengan lebih baik di kemudian hari.
3. Berikan contoh, tes, latihan yang langsung berhubungan dengan kehidupan sehari-hari siswa.
c.         Kepercayaan diri (Confidence). Keyakinan pribadi bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk melakukan suatu tugas yang merupakan syarat keberhasilan. Prinsip yang berlaku dalam hal ini adalah bahwa motivasi akan meningkat dengan sejalan dengan meningkatnya harapan untuk berhasil. Strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri:
1. Memperbanyak pengalaman berhasil pada siswa, misal menyusun materi pembelajaran dari materi yang mudah ke materi yang sulit.
2. Menyusun materi pembelajaran ke bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga siswa tidak terlalu dituntut mempelajari terlalu banyak konsep sekaligus.
3. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan kriteria tes, sehingga membantu siswa mempunyai gambaran yang jelas apa yang diharapkan.
4. Memberikan umpan balik positif agar mereka tahu perkembangan prestasi yang telah dicapai.
5. Menumbuh-kembangkan kepercayaan diri siswa baik dengan ucapan verbal maupun melalui sikap.
d. Kepuasan (Satisfaction). Keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan akan menghasilkan kepuasan, dan siswa akan termotivasi untuk terus berusaha mencapai tujuan serupa. Strategi untuk meningkatkan kepuasan:
1. Gunakan pujian secara verbal.
2. Minta kepada siswa yang telah paham untuk membantu teman-temannya yang belum berhasil.
3. Bandingkan prestasi siswa dengan prestasinya sendiri di masa lalu, bukan dengan siswa lain.

Bagaimana cara guru mengintegrasikan motivasi dalam rancangan proses pembelajaran?

The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires.
Guru yang biasa-biasa saja memberi tahu. Guru yang baik menjelaskan. Guru yang bagus menunjukkan bagaimana caranya. Tetapi guru yang luar biasa menginspirasi murid-muridnya.
~  W illiam A. Ward  ~

Hal yang paling penting dalam pembelajaran adalah motivasi. Guru yang luar biasa harus mampu menginspirasi siswanya untuk memiliki motivasi diri dalam melakukan banyak hal, menciptakan hal-hal yang baru, dan berkarya dalam hidupnya, tanpa adanya ketakutan untuk dihina, dicela dan bahkan ditolak. Guru yang luar biasa harus mampu melakukan semua ini dengan memprioritaskan kebutuhan siswa untuk didengar, dan dihargai, tanpa menjatuhkan ego dan kewibawaan mereka.
Dari pembahasan sebelumnya, kita mengetahui apa saja upaya yang bisa dilakukan guru untuk menggairahkan siswanya dalam belajar, bentuk dan cara yang dapat digunakan untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar, teknik-teknik yang dapat dilakukan dalam proses pembelajaran untuk menumbuhkan motivasi belajar, teori-teori motivasi dan teori belajar dan implementasi motivasi dalam praktek pendidikan, dan prinsip-prinsip motivasi yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. Sebagai komponen yang secara langsung berhubungan dengan permasalahan rendahnya motivasi belajar siswa, maka guru harus menguasai kelima hal tersebut dan menerapkannya dalam pembelajaran. Jika guru telah menguasai kelima hal tersebut, maka mudah bagi guru untuk mengintegrasikan motivasi dalam rancangan proses pembelajaran.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengintegrasikan motivasi dalam rancangan proses pembelajaran, yakni:
1)      Identifikasi dulu apa SK, KD, Indikator dan tujuan pembelajaran yang akan diajarkan. Susunlah rumusan dari masing-masing SK, KD, Indikator, dan tujuan pembelajaran itu dengan urut dan jelas, agar kita tahu, kompetensi apa yang kita inginkan untuk dicapai siswa pada pertemuan tersebut. Ingat untuk menginformasikan dengan jelas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan apa manfaat pengetahuan atau ketrampilan tersebut bagi siswa di kemudian hari.
2)      Identifikasi kebutuhan peserta didik. Kita tentunya telah mengenal siswa kita dengan baik, dari apa yang menjadi kelemahan dan kekurangannya, apa yang bisa membuat siswa kita sulit untuk menguasai kompetensi yang akan diajarkan, apa yang bisa membuat siswa termotivasi untuk menguasai kompetensi tersebut dan lainnya. Dari proses mengidentifikasi ini, kita harus menyimpulkan bagaimana cara kita menyampaikan materi yang akan diajarkan dengan cara yang mudah dipahami siswa dan sekaligus membuat siswa tertarik untuk menguasainya. Kita bisa menyiapkan beberapa cerita humor, anekdot, dan peristiwa aktual untuk menarik perhatian siswa, sekaligus menimbulkan rasa ingin tahu, dan memunculkan sesuatu yang tidak diduga oleh siswa. kita bisa mendesain tempat duduk yang berbeda dari biasanya, memperdengarkan musik, memperlihatkan gambar dan lain sebagainya yang kita anggap bisa menumbuhkan motivasi siswa untuk semangat dalam belajar.
3)      Pikirkan bentuk motivasi yang akan ditanamkan dalam diri anak didik. Bentuk motivasi yang ingin kita tularkan tentu berdasarkan identifikasi awal terhadap peserta didik. Susunlah apa saja bentuk motivasi yang ingin ditanamkan tersebut agar kita tidak lupa untuk menyampaikannya pada siswa pada proses pembelajaran. Kita bisa menggunakan bahasa verbal untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa, termasuk dengan memberi pujian, anggukan kepala, atau memberi reinforcement. Kita juga bisa memberikan motivasi berupa ganjaran terhadap prestasi/hadiah dan memberi contoh-contoh positif bagi siswa. Melakukan hal ini tidak mudah, guru harus berlatih dan membiasakan diri sebelumnya agar tidak kelihatan canggung atau ragu saat memberi motivasi pada siswa, dan juga pemberian motivasi tidak tepat sasaran atau disalah artikan oleh siswa. ada Baiknya guru mempersiapkan presentasi seperti film, lagu atau presentasi singkat lainnya tentang motivasi atau kisah-kisah inspiratif orang-orang sukses, yang dapat ditayangkan sebelum materi diajarkan.
4)      Memilih materi, metode dan media pembelajaran yang tepat. Guru harus memikirkan apa materi yang tepat untuk disampaikan dan sesuai dengan tuntutan SK, KD yang telah ditetapkan. Pemilihan materi seharusnya disesuaikan juga dengan isu terkini atau hal-hal baru yang dapat menimbulkan motivasi siswa.  Jika perlu materi dikaitkan langsung dengan motivasi. Jangan lupa mengaitkan materi dengan minat, dan hal-hal yang familiar dalam kehidupan sehari-hari siswa. Metode pembelajaran sebaiknya tidak monoton, jika bisa diupayakan metode yang mampu membuat seluruh siswa secara aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran, dan menimbulkan persaingan sehat antar siswa. Guru juga perlu mengupayakan media yang tepat, menarik dan tidak membosankan.
5)      Merancang langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang menyenangkan. Guru bisa merancang kegiatan belajar yang mampu memotivasi siswa belajar. Banyak cara bisa dilakukan, dan tentu saja cara tersebut tidak lari dari metode yang dipilih. Guru bisa menggunakan simulasi dan permainan sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran. dalam kegiatan pembelajaran, siswa diberi kesempatan untuk menunjukkan hasil kerjanya, meminta siswa yang telah paham untuk membantu teman-temannya yang belum berhasil, atau menyediakan tutor buat siswa yang bermasalah, memberikan umpan balik positif agar mereka tahu perkembangan prestasi yang telah dicapai dan melakukan evaluasi dan menginformasikan hasilnya, sehingga siswa mendapat informasi yang tepat tentang keberhasilan dan kegagalan dirinya tanpa merasa disalahkan.
Sebuah pembelajaran yang berhasil bukan hanya diukur dari tingginya nilai ujian siswa dan seberapa cepat dia mengerjakan sebuah soal. Tapi bagaimana ia mampu menguasai kompetensi yang diajarkan dan memanfaatkan kompetensi tersebut untuk masa depannya. Karena itu, Guru sebagai artis segala bisa, harus mempunyai ketertarikan yang kuat agar siswa ingin memperhatikan dirinya bahkan ketika dia tidak sedang melakukan apapun. Ketertarikan siswa akan pribadi guru akan menjadi motivasi tersendiri bagi siswa untuk mampu menguasai kompetensi yang diharapkan.
Sebagai lanjutan dari pembuatan rancangan proses pembelajaran yang mengintegrasikan motivasi, tahap selanjutnya adalah pelaksanaan pembelajaran tersebut. Dalam melaksanakan pembelajaran, ada satu kunci utama yang harus dikuasai guru, yakni menjadi guru yang komunikatif. Guru tidak bisa memberi motivasi jika Ianya sendiri pasif dan jarang berbicara. Guru harus mampu mencairkan situasi pembelajaran atau breaking the ice. Guru bisa memulai pembicaraan kepada siswa dengan menanyakan hal-hal yang santai sambil bercanda seperti: tadi sarapan paginya apa? Semalam mimpi apa? Cara ini efektif untuk memecahkan suasana kaku dan tegang di kelas. Guru harus mampu memposisikan dirinya sebagai teman dan bukan musuh bagi siswa, tanpa menghilangkan rasa haormat siswa terhadapnya. Memulai pembelajaran dengan cara ini gampang-gampang susah. Banyak situasi kelas yang ketika gurunya masuk, siswa duduk diam di kelas, tangan di lipat, muka ditekuk, menunggu apa yang ingin disampaikan guru. Guru juga tanpa banyak basa-basi (biasanya hanya menyapa dan mengabsen dulu) langsung masuk ke materi yang akan diajarkan. Tak heran siswa tidak termotivasi dalam mengikuti pembelajaran. Bahkan beberapa mata pelajaran (juga gurunya) dibenci oleh guru dan benar-benar tidak diharapkan kehadirannya di kelas. Karena itu penting bagi guru untuk menjadi seorang yang komunikatif bagi siswanya.
Selain itu, dalam proses pembelajaran, kebanyakan siswa takut menjawab pertanyaan guru karena guru akan menyalahkan, bahkan mentertawakan ketika mereka salah. Guru harus mampu membuat siswa tetap percaya diri, dan yakin bahwa tidak akan terjadi apa-apa, ketika mereka salah menjawab atau berpendapat. Ketika pendapat mereka belum benar, maka guru bisa mengatakan bahwa “pendapat yang bagus, apakah ada yang lain?, atau terimakasih, kamu sangat aktif, siapa yang ingin memberikan pendapat lagi?”
Untuk membantu anak didik dalam meraih impiannya dan mencapai kesuksesannya, guru harus mampu menjadi seorang motivator yang baik. Banyak hal yang bisa menyebabkan siswa tidak termotivasi untuk terus maju. Latar belakang keluarga, masalah ekonomi, keterbatasan fisik, kekurangan daya tangkap, masalah kejiwaan dan sifat alami bisa membuat siswa kita tidak bersemangat menjalani hari-harinya. Bagaimana kita memaksakan siswa seperti itu untuk menguasai dan bahkan mencintai pelajaran yang kita ajarkan? Penerimaan dan penolakan dari teman sebaya, dari orangtua dan bahkan dari guru, juga bisa menyebabkan perasaan takut, kekhawatiran yang berlebihan bahkan perasaan malu dan kehilangan kepercayaan diri. Karena itulah guru harus memperbaiki diri, dan berusaha menjadi motivator yang baik bagi siswanya. Mengintegrasikan motivasi dalam pembelajaran merupakan salah satu langkah bagi guru untuk bisa mewujudkan perannya sebagai motivator tersebut. seperti dalam penggalan syair berikut ini:
Mengajar bukan profesi. Mengajar adalah kegemaran.
Aku telah mencapai sebuah kesimpulan yang menakutkan bahwa aku adalah unsur penentu di dalam kelas.
Pendekatan pribadikulah yang menciptakan iklimnya
Suasana hatikulah yang membuat cuacanya.
Sebagai seorang Guru,
aku memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membuat hidup seseorang menderita atau gembira.
Aku bisa menjadi alat penyiksa atau pemberi ilham, bisa bercanda atau mempermalukan,
melukai atau menyembuhkan.
Dalam semua situasi, reaksikulah yang menentukan, apakah sebuah krisis akan memuncak atau mereda
dan apakah seseorang akan diperlakukan sebagai manusia atau direndahkan.
( Haim Ginott)

Syair ini mengingatkan kita, bahwa menjadi guru harus diiringi itikad baik, guru adalah penentu dalam kelas, guru bisa menyebabkan kehancuran dan juga bisa membawa pada kebaikan. Jadi, sebagai guru, kita harus hati-hati dalam bertindak, jangan sampai tindakan kita berpengaruh buruk bagi siswa. Jadilah motivator bagi siswa, seorang penyayang dan peduli, untuk selalu dikenang sampai akhir hayat.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, A. 2004. Psikologi Balajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Dimyati & Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Djaali, H. 2008. Psikologi Pendidikan.Jakarta, PT Bumi Aksara
Djamarah,Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar.Jakarta:Rineka Cipta.
Hamalik,Oemar. 2003. Proses Belajar Mengajar.Bandung: Bumi Aksara.
http://en.wikipedia.org/wiki/Liz_Murray
http://www.bijak.web.id/inspirasi/inilah-10-orang-cacat-terhebat-menjadi-inspirasi-dunia.html
Kerlinger, F. N.  2005. Azas-Azas Penelitian behavioral. Terjemahan: Simatupang. Yogyakarta: Gajah Mada Universiti Press.
Makmun, A. S. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Mulyasa, E. 2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Prayitno, 2002. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
Santrock, John W. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Santrock, John W. 2008. Educational Psychology (edisi terjemahan). Jakarta : Kencana Prenada Media Group
Sardiman,A.M. 2006.Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.Jakarta:Grafindo.
Simarmata, Niken Maria. 2006. Karena Dia. Kumpulan Kisah Nyata Bukti Pertolongan Tuhan. Yogyakarta: Andi offset.
Uno, H. B. 2008. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara
Wardhani, Nurul. Peran guru dalam meningkatkan motivasi. http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/12 (didownload 16 Januari 2010)
Walgito, B. 2007. Psikologi Kelompok. Yogyakarta: Andi.
Winkel, W. S. 2004. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.
Woolfolk, Anita E. 2004. Educational Psychology. Boston: Pearson Education.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar